Langsung ke konten utama

Postingan

Dwikorita Rektor Idaman Aktivis Mahasiswa

Postingan terbaru

Nasi Padang Membara ; Sebuah Catatan Perjalanan

Setelah pendakian terakhir ke Merapi yang entah bulan kapan itu lupa, yang pasti sudah lama sekali, lebih dari 3 bulan mungkin. Lantas hasrat untuk kembali muncak timbul lagi ketika menjelang Ramadhan, biasanya bulan-bulan terakhir menjelang Ramadan gunung-gunung tak ubahnya seperti mall-mall menjelng Idul Fitri, ramai dan penuh sesak. Entah mengapa hasrat itu timbul disitu, apalagi pada waktu itu cuaca Jogja sangat bersahabat sekedar untuk menengok Merapi atau Merbabu, ditambah purnama yang indah, semakin ingin menikmatinya dari ketinggian. Ajakan-ajakan naik gunung pun berdatangan, namun apa daya angan hanya tinggal angan, karena dana tidak mencukupi dan waktu yang tidak bersahabat. Maka darinya, untuk mengentaskan dendam, diputuskanlah bahwa sehabis lebaran wajib hukumnya untuk naik gunung! Tak muluk-muluk, gunung yang ada tepat di depan rumah sebagai sasaran untuk balas dendam! Iya, gunung Guntur yang hanya berketinggian 2.249 mdpl


Karena lebarannya hari jumat, maka tidak mungkin …

23th

1.
Iya! Hari ini hari kamis tanggal 7 di bulan Mei tahun 2015 masehi, dan diluar sedang purnama, bulan yang begitu indah karena dilihat dari sini, dari bumi, iya! Selain dilihat dari jauh, bulan menjadi indah oleh karena ia memantulkan cahaya yang diterimanya dari matahari, itulah mengapa ia bisa nampak dari sini tanpa harus menggunakan alat khusus. Padahal sejatinya, bulan itu tiada bagus-bagusnya, permukaan yang gersang dan banyak lubang besar disana-sini tak ubahnya seperti bekas jerawat, tetapi ketika ia mampu memantulkan cahaya yang ia terima dan dilihat dari jauh, maka tampak cantiklah ia. Ini lah pencitraan, pandangan mata mampu menipu. Sedemikian hebatnya pencitraan dari bulan, sampai-sampai ia mampu menyusup pada bait-bait puisi yang oleh karenanya seorang bisa dikenal sebagai seorang penyair. Selain itu banyak pula lelaki yang menjadikan bulan sebagai bahan untuk merayu seorang wanita guna mendapatkan hatinya, entah untuk dipacari ataupun diperistri, seperti "ooh... sun…

Menyikapi Kasus Rembang (Pegunungan Kendeng) Biar Kekinian

Bingung juga sebetulnya harus mulai darimana untuk menyikapi kasus Rembang ini, mungkin karena tidak terlalu mengikuti perkembangan kasusnya, malah tadinya berpikiran kalau kasus pendirian pabrik semen ini sudah berakhir, ya tentunya dengan kemenangan si pemilik pabrik, seperti biasa disini masyarakat marhaen kalah dengan masyarakat industri kapitalis. Hal yang lumrah terjadi disini, tentu saja karena selain perkembangan masyarakat industry kapitalis yang lebih kurang selama 200 tahun melalui berbagai macam aksi penjarahan dan penghancuran terhadap berbagai macam sumber daya alam yang ada di bumi ini sehingga menghasilkan Imperialisme yang oleh Lenin di definisikan sebagai tahap tertinggi dari kapitalisme sehingga menciptakan jalan baru bagi kapitalisme ke seluruh penjuru dunia. Imperialisme yang dilakukan oleh negara-negara Barat dengan menjarah Sumber Daya Alam (SDA) dari negeri jajahan, tentunya telah membuat ekonomi negara sangat berkecukupan bahkan kelebihan uang, sebaliknya S…

KPMBC Yogyakarta Kalangan Intelektual Yang Menjadi Poros Tengah Bobotoh Persib Di Yogyakarta

Sejarah baru tercatat dalam dunia per-bobotoh-an di Yogyakarta. Setelah sebelumnya kelompok bobotoh di Yogyakarta di monopoli oleh Viking Yogya selama hampir 5 tahun, di tahun ke 5 itulah mulailah bermunculan kelompok-kelompok bobotoh lainnya yang tidak lain dan tidak bukan, baik langsung maupun secara tidak langsung sebetulnya Viking Yogya lah yang ikut membidani berdirinya kelompok-kelompok tersebut. Pun sebetulnya kehadiran kelompok-kelompok bobotoh itu tidak lepas juga dari trend perkembangan di Indonesia yang sekarang banyak mengadopsi gaya (dalam arti sebenarnya) suporter-suporter Eropa dalam, hal ini Inggris untuk masalah berpakaian dan Italy untuk masalah cara/bentuk kreatifitas dukungan.
Tercatat hari ini ada 3 kelompok bobotoh persib di Yogyakarta, yaitu Viking Yogyakarta, Yogyakarta Crew (ex: FCC) dan yang terbaru Bobotoh Liar Yogyakarta. Yang dari kedua kelompok baru tersebut merupakan kader jebolan Viking Yogya sendiri. Dalam hal ini Viking Yogya telah berhasil menciptak…

Kedaulatan Indomie

Berbicara masalah kedaulatan tentunya berbicara juga tenatang keadaan negara. Sayangnya walaupun Indonesia masih tanah air ku tapi sekarnag tanah harus beli, begitu juga air maa sudah tidak relevan lagi rasanya jika berbicara Indonesia tanah airku, harusnya diganti Indonesia tanah airnya. Apalagi Indonesia sudah terbagi-bagi menjadi Indomie, Indocement, dan Indomobil, nesia-nya entah kemana mungkin dibuang ke kali, kalau dulu nyangkut di cendana mungkin kini nyangkutnya di Megawati. Kalau melihat Indomie yang sudah menjadi bagian dari Indo-nesia, sesungguhnya Indomie adalah produk cendana. Ya! Salah satu produk turunan dari bisnis keluarga Pak Harto. Karena ketika era keluar inilah keran impor gandum ke Indonesia dibuka selebar-lebarnya, dan sudah barang tentu kalian tahu bahwa Indomie itu bahan dasarnya adalah gandum, satu produk yang bahan pokoknya tidak ditanam disini. Mungkin ketika Menteri Pertanian Indonesia mengatakan bahwa sekarang konsumsi beras masyarakat menurun karena bera…

Maghrib

Sebenarnya sudah sejak lama ingin menuliskan tentang ini, hanya saja selalu lupa dan malas sebetulnya, karena memang butuh motivasi lebih ternyata untuk sekedar menulis saja. Baru hari ini terpikir untuk menuliskanya kembali, terlebih setelah menonton sinetron yang tengah booming sekarang-sekarang ini, apalagi untuk orang-orangJawa Barat.