Tampilkan postingan dengan label Bangsa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bangsa. Tampilkan semua postingan

PUASA, BUDAYA, DAN JATI DIRI BANGSA

Juli 13, 2014
Bulan Ramadhan bulan suci penuh rahmat, berkah dan ampunan. Seorang yang bertaqwa pasti merindukan kehadiran bulan suci ini karena kedatangannya memberi peluang dalam melakukan ibadah untuk kembali pada sumber spiritualitasnya yang tidak pernah kering sebagai penemuan jati diri dan kembali ke fitrahnya.

Tahap spiritualitas yang tinggi dicapai dengan pendisiplinan diri selama satu bulan penuh dengan menahan hawa nafsu, melatih jiwa menahan dorongan-dorongan darah dan dagingnya, tidak berbuat dan berkata yang dapat menyakitkan orang lain, serta memperbanyak dzikir dan meingkatkan amal kebajikan.

Pada dasarnya puasa telah diajarkan lebih sebelum islam datang, dan diajarkan di semua agama serta telah menjadi fenomena universal yang hanya berbeda cara pelaksanaan dan waktunya saja antara agama satu dan yang lainnya, tapi memiliki makna yang sama sebagai pendekatan diri kepada Tuhan nya.

Agama-agama Romawi misalnya telah menganggap puasa sebagi cara untuk mencari petunjuk Tuhan. Bangsa Mesir kuno melakukan puasa dari anggur dan daging untuk menerima dan menterjemahkan apa yang mereka anggap wahyu. Agama Hindu melaksanakan puasa pada saat hari raya nyepi, dengan tidak melakukan segala aktifitas keduniawian. Bangsa cina klasik berpuasa untuk mengawali sebuah pengorbanan, kepercayaan Taoisme berpuasa untuk menuju jalan ke-tao-an. Konfusianisme berpuasa untuk memuja nenek moyangnya. Agama Kristen melakukan puasa sbelum hari raya paskah (Mircea Eliasa, The Encyclopedia of Religion). Bahkan di jawa sebelum agama datang dikenal puasa kejawen sebagai cara untuk mendapatkan ilmu tertentu.

Gambar tema oleh Sookhee Lee. Diberdayakan oleh Blogger.