Bulan Ramadhan bulan suci penuh rahmat, berkah dan ampunan. Seorang
yang bertaqwa pasti merindukan kehadiran bulan suci ini karena
kedatangannya memberi peluang dalam melakukan ibadah untuk kembali pada
sumber spiritualitasnya yang tidak pernah kering sebagai penemuan jati
diri dan kembali ke fitrahnya.
Tahap spiritualitas yang
tinggi dicapai dengan pendisiplinan diri selama satu bulan penuh dengan
menahan hawa nafsu, melatih jiwa menahan dorongan-dorongan darah dan
dagingnya, tidak berbuat dan berkata yang dapat menyakitkan orang lain,
serta memperbanyak dzikir dan meingkatkan amal kebajikan.
Pada
dasarnya puasa telah diajarkan lebih sebelum islam datang, dan
diajarkan di semua agama serta telah menjadi fenomena universal yang
hanya berbeda cara pelaksanaan dan waktunya saja antara agama satu dan
yang lainnya, tapi memiliki makna yang sama sebagai pendekatan diri
kepada Tuhan nya.
Agama-agama Romawi misalnya telah
menganggap puasa sebagi cara untuk mencari petunjuk Tuhan. Bangsa Mesir
kuno melakukan puasa dari anggur dan daging untuk menerima dan
menterjemahkan apa yang mereka anggap wahyu. Agama Hindu melaksanakan
puasa pada saat hari raya nyepi, dengan tidak melakukan segala aktifitas
keduniawian. Bangsa cina klasik berpuasa untuk mengawali sebuah
pengorbanan, kepercayaan Taoisme berpuasa untuk menuju jalan ke-tao-an. Konfusianisme berpuasa untuk memuja nenek moyangnya. Agama Kristen melakukan puasa sbelum hari raya paskah (Mircea Eliasa, The Encyclopedia of Religion). Bahkan di jawa sebelum agama datang dikenal puasa kejawen sebagai cara untuk mendapatkan ilmu tertentu.
