Tampilkan postingan dengan label Demokrasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Demokrasi. Tampilkan semua postingan

REVOLUSI BELUM SELESAI DAN BAHAYA BELAJAR DEMOKRASI

Juli 14, 2014
gambar dari news.metrotv.com
Revolusi belum selesai !Begitulah salah satu pekikan Bung Karno dalam salah satu pidatonya. Bung Karno menganggap Revolusi Indonesia belumlah selesai karena masih banyak sektor yang masih harus dibenahi, baik dari politik, sosial maupun ekonomi. Anggapan ini pulalah yang mengakibatkan perceraian antara Soekarno dan Hatta. 

Revolusi adalah salah satu perubahan radikal dan fundamental dalam kehidupan masyarakat secara cepat. Pada umumnya revolusi sering ditandai dengan penggulingan kekuasaan dan diiringi aksi berdarah-darah yang timbul akibat konflik antara kekuatan bertahan dan kekuatan menjatuhkan. Sebagai contoh dapat dilihat dari sejarah revolusi di Perancis, Rusia, maupun Cina. Dari sejarah kita dapat belajar bahwa tanpa revolusi, dinamika masyarakat berjalan lamban tanpa adanya loncatan listrik dalam membangun peradaban baru baik dalam ekonomi, sosial budaya, hukum dan sains tek.

Bagi masyarakat dengan tatanan dan sistem politik yang mapan, revolusi berlangsung pada tataran kebudayaan san sainstek, sedangkan pada masyarakat dengan tatanan politik yang carut-marut revolusi menjadi satu hal yang kompleks dan beresiko tinggi.

Revolusi bagai pisau bermata dua, satu sisi menimbulkan kekerasan dan memakan anaknya sendiri, sedangkan di sisi lain menimbulkan loncatan peradaban yang lebih tinggi. Tapi sebenarnya yang menjadi persoalan adalah apa yang terjadi setelah revolusi dan menemukan momentumnya dengan pergantian kekuasaan? Sejarah menunjukan revolusi tidaklah mempunyai basis ideologi yang kuat dan rekonstruksi yang jelas.

Ketika kekuasaan politik jatuh, kekuasaan revolusioner cenderung membagi-bagikan kekuasaan, mereka bertikai sendiri antas sesamanya dan dengan berbagai cara berusaha mengukuhkan kekuasaanya. Sehingga kekuatan revolusioner dengan misi sucinya ternoda oleh nafsu kekuasaan.

Jika sejarah dijalankan dengan adanya creative minoryty, maka creative dalam revolusi haruslah dijiwai dengan keteladanan sosial, moral, dan intelektual yang kuat, sehingga dapat membangun tatanan olitik dan birokrasi yang efektif dan efisien, sekaligus memperkecil kecenderungan seorang penguasa memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan dirinya. Dan rakyat sebagai penyangga revolusi tidak lagi terpuruk nasibnya, miskin, bodoh, serta dibodoh-bodohi seperti habis manis sepah dibuang. 

Gambar tema oleh Sookhee Lee. Diberdayakan oleh Blogger.