Tampilkan postingan dengan label Kapitalisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kapitalisme. Tampilkan semua postingan

Menyikapi Kasus Rembang (Pegunungan Kendeng) Biar Kekinian

April 12, 2015
Bingung juga sebetulnya harus mulai darimana untuk menyikapi kasus Rembang ini, mungkin karena tidak terlalu mengikuti perkembangan kasusnya, malah tadinya berpikiran kalau kasus pendirian pabrik semen ini sudah berakhir, ya tentunya dengan kemenangan si pemilik pabrik, seperti biasa disini masyarakat marhaen kalah dengan masyarakat industri kapitalis. Hal yang lumrah terjadi disini, tentu saja karena selain perkembangan masyarakat industry kapitalis yang lebih kurang selama 200 tahun melalui berbagai macam aksi penjarahan dan penghancuran terhadap berbagai macam sumber daya alam yang ada di bumi ini sehingga menghasilkan Imperialisme yang oleh Lenin di definisikan sebagai tahap tertinggi dari kapitalisme sehingga menciptakan jalan baru bagi kapitalisme ke seluruh penjuru dunia. Imperialisme yang dilakukan oleh negara-negara Barat dengan menjarah Sumber Daya Alam (SDA) dari negeri jajahan, tentunya telah membuat ekonomi negara sangat berkecukupan bahkan kelebihan uang, sebaliknya Sumber Daya Alam mereka sendiri mereka simpan dan jaga dengan sangat baik, sehingga ketika SDA negara jajahan telah habis, mereka bisa mulai mengolah SDA nya sendiri dan tentunya menjual hasilnya pada negara jajahan, maka selamanya negara tersebut akan terus terjajah secara sadar atupun tidak.  Maka Mahatma Gandhi berujar bahwa jika negeri yang dulu terjajah ingin menyamai ekonomi dari negara penjajah, negeri terjajah itu harus melakukan imperialisme selama seratus tahun dulu ke negara penjajah tersebut.

Jika menggunakan logika bahwa bumi ini bagaikan seekor sapi Limosin yang kalau tidak disembelih dan dimanfaatkan dagingnya akan mati dengan percuma, maka bumi ini akan sia-sia jika tidak di eksploitasi habis-habisan, karena toh akhirnya akan hancur juga (dalam hal ini kiamat). Tentu saja pola pikir tersebut merupakan pola pikir kapitalisme kontemporer, yang berarti bahwa pola produksi harus terus bergerak, ekspansi modal harus terus berjalan, eksploitasi bahan mentah harus terus dilakukan dan ketika itu semua berhenti maka kematian kapitalisme yang akan terjadi. 

Diploma Teknik Elektro UGM, Contoh Sederhana Dari Sistem Manufakturisasi Pendidikan

Oktober 19, 2014


sumber: kontinum.org

Dengan memahami universitas dalam kapitalisme kognitif tempat berpautnya kepentingan industri dan negara,  maka kita harus membangun strategi dan taktik yang relevan dengan karakternya.
Dalam kapitalisme, kampus adalah korporasi pada industri pendidikan. Salah satu kesamaannya tampak dari begitu kerasnya birokrasi universitas menormalkan dan menjinakan kehidupan kampus  untuk meredam perlawanan dan protes-protes. Selain untuk mendisiplinkan dan menutupi segala bentuk kejahatan birokrasi kampus, represi dan kekerasan akademik juga bertujuan memastikan pengintegrasian universitas ke dalam konfigurasi ekonomi global.

Dengan melihat posisinya dalam konfigurasi ekonomi kontemporer, universitas mesti dipahami secara radikal. Tentu pemahaman yang umum dipercayai yakni pendidikan adalah sarana pencerahan, pengembangan dan peningkatan kwalitas masyarakat, sudah menjadi mitos belaka. Sementara analisis lain bahwa universitas sebagai pabrik yang menghasilakan (calon) pekerja untuk memproduksi relasi kerja upahan dalam masyarakat industri, mesti diradikalisir kembali.

Gambar tema oleh Sookhee Lee. Diberdayakan oleh Blogger.